Hidup Menapaki Anak Tangga

SWARACINTA Tahun I/Mei-Juni 2011.

Nukman Luthfie memanfaatkan setiap langkah hidupnya untuk belajar. Meski latar belakang pendidikannya Teknik Nuklir, tapi Nukman kini dikenal sebagai pengusaha digital dan public speaker di bidang bisnis online dan social media marketing.

Lulus dari Teknik Nuklir UGM pada tahun 1990, Nukman Luthfie memutuskan menjadi wartawan. Dimulai dari menjadi wartawan Bisnis Indonesia beberapa bulan, pindah ke majalah Prospek selama 3 tahun, lalu pindah lagi ke majalah bisnis SWA. Dia lalu berkarir di Agrakom Para Relatika, sebuah perusahaan PR yang menangani sejumlah perusahaan berbasis Teknologi Informasi.

Pria kelahiran Semarang, 24 September 1964 ini kemudian menjadi petinggi di PT Agranet Multicitra Siberkom (AGRAKOM) sebagai Internet Service Director, sebuah perusahaan layanan TI yang salah satu unit usahanya adalah Detik.com

Setelah malang melintang di dunia bisnis, internet service, Public Relation, dan e-marketing, pada 2003 Nukman memutuskan untuk mendirikan perusahaannya sendiri, Virtual Consulting, suatu perusahaan konsultan Internet marketing dan komunikasi.

Karir Nukman tak perjalan mengikuti sebuah garis lurus. Namun naik dan naik seperti menapaki anak tangga. Berikut wawancara majalah SWARACINTA Tahun I/Mei-Juni 2011 dengan pria yang punya hobi membaca, menulis dan menggambar ini.

Anda makin terkenal sebagai public speaker sekarang. Menurut anda sendiri, apa sih pekerjaan anda sekarang?

Saya masih menganggap diri saya sebagai pengusaha di bidang digital. Jika sekarang ini saya sering diminta sebagai pembicara mengenai pemasaran online, itu semata karena saya punya pengalaman di bidang itu. Saya cukup bangga karena orang yang punya pengalaman di bisang itu sepertinya tak banyak. Yang paham secara teoritis memang ada.

Anda berlatarbelakang pendidikan nuklir, kenapa kok malah memilih terjun ke dunia bisnis online?

Ketika masuk ke jurusan Teknik Nuklir, yang ada di benak saya hanya satu: saya menyukai segala hal yang berbau teknologi. Nah pada saat Internet masuk ke Indonesia, saya masih berprofesi wartawan. Kebetulan saya bekerja di berbagai media ekonomi dan bisnis. Selama menjadi wartawan itu, tentu banyak pengetahuan bisnis yang saya dapatkan. Saya jadi paham tentang marketing, tentang manajemen pada umumnya.

Secara kebetulan pula, mungkin karena latar belakang pendidikan teknik saya, ketika Internet mulai berkembang, saya juga ditugasi mengamati perkembangan mahluk baru itu hingga saya menjadi paham Internet dengan baik. Itu pula yang membuat saya diajak beberapa kawan yang  mendirikan Agrakom,untuk menjadi eksekutif. Agrakom  lalu melahirkan Detik.com

Di Agrakom, seluruh pengetahuan yang saya dapatkan selema menjadi wartawan itu harus diterapkan di dunia nyata.  Itu membuat saya kian matang. Di Detik.com, saya juga harus memahami bagaimana sebuah berita bisa layak masuk ke media online, bagaimana bisa memasarkan iklan yang ada di media itu, dan seterusnya. Saya bangga menjadi eksekutif Detik.com yang bermodal dengkul mampu memenangkan persaingan melawan dua perusahaan pesaing yang didanai miliaran rupiah.

Jadi, saya melihat tahap demi tahap perjalanan hidup saya sebagai ajang belajar. Saya selalu berusaha memanfaatkan pelajaran yang saya dapatkan dari setiap anak tangga saya untuk diakumulasikan menjadi sebuah kekuatan baru. Itu juga yang kemudian menjadi alasan kenapa saya memutuskan untuk mendirikan Virtual Consulting, perusahaan yang core-business-nya membantu perusahaan-perusahaan masuk ke media online.

Dari perusahaan anda itu, ada pelajaran baru lagi?

Tentu. Internet sudah berkembang. Saat saya masih eksekutif Detik.com, Internet baru pada tahap penggabungan antara teknologi online dan komunikasi. Hanya ada berita dan iklan. Sekarang, hanya dalam beberapa tahun, perusahaan sudah sangat drastis. Adanya Facebook dan Twitter, juga blog, membuat komunikasi menjadi multi arah. Alur komunikasi tidak hanya bergerak dari media kepada pembacanya, tetapi dari semua orang kepada semua orang.

Dari sudut pandang marketing, perkembangan ini menjadikan kegiatan pemasaran online kian kompleks. Dulu, untuk membaca pasar, seorang pemasar dituntut untuk memahami demografi, psikografi dan sejenisnya. Sekarang harus dilengkapi dengan teknografi, yakni bagaimana konsumen mengadopsi teknologi Internet dalam kehidupan sehari-hari.

Di Internet kini dikenal tangga teknografi. Di tangga teratas ada yang disebut sebagai Creator, golongan yang membuat konten di Internet, mereka memiliki dan memperbarui blognya atau membuat video dan diunggah ke Youtube. Lalu ada golongan conversationalist yang cerewet di Twitter dan Faceboook. Serta tangga-tangga lain seperti Critics.

Kini, lebih kompleks untuk memehami perilaku pasar. Tapi, teknologi menyediakan alat untuk itu.

Lalu bagaimana aktivitas anda sebagai speaker?

Itu ada ceritanya sendiri. Awalnya, saya dianggap sebagai satu-satunya yang punya pengalaman sebagai pelaku bisnis online sekaligus konsultan pemasaran online.  Karena persepsi itulah kemudian saya sering diundang berbicara di berbagai seminar, serta jadi narasumber berbagai media, baik cetak, radio, teve maupun online.

Saya sendiri tidak pernah menganggap diri saya sebagai public speaker. Tapi sebagai orang yang punya pengalaman dan pengetahuan, saya punya kewajiban untuk berbagi. Virtual Consulting misalnya, setiap tahun paling tidak membuat dua kali semintar strategis mengenai online. Pesertanya kebanyakan eksekutif perusahaan-perusahaan besar. Tetapi saya juga menyisihkan waktu untuk perusahaan-perusahaan kecil menengah.

Agak aneh, anda sepertinya menganaktirikan perusahaan kecil?

Hahahaha tentu tidak. Satu hal yang harus dipahami, penerapan online marketing perusahaan kecil justru lebih maju ketimbang perusahaan menengah dan besar. Dalam hal social media misalnya, perusahaan kecil kini sudah masuk ke fase bagaimana memanfaatkan medium baru itu untuk meningkatkan penjualan. Sebaliknya perusahaan besar baru masuk ke tahap coba-coba. Penyebabnya klasik: pengambilan keputusan di perusahaan besar lebih rumit dan lambat dibanding perusahaan kecil. Adopsi pemasaran baru seperti di social media pun terasa lambat di perusahaan besar dibanding perusahaan kecil.

Anda akan terus menjadi public speaker?

Selama masih ada kebutuhan dan waktu, saya masih mau. Tapi, meski saat ini honor yang saya terima amat besar karena seringnya diundang bicara, saya tidak akan mengabiskan waktu di sini. Fokus saya tetap ke pengembangan usaha digital. Saya ingin Virtual Consulting, yang kini sudah dipegang oleh profesional, kian besar dan maju, sehingga semakin membanggakan karyawannya. Sekaligus, membuka lahan-lahan baru di bidang digital, seperti PortalHR.com, Juale.com dan Musikkamu.com.

Anda sudah puas dengan capaian sekarang ini?

Saya tak pernah punya cita-cita yang muluk-muluk saat ini. Capaian saat ini sudah membahagiakan saya. Tapi saya tetap ingin naik tangga yang lebih tinggi secara bertahap. Satu anak tangga dilalui, saya naik ke tangga berikutnya. Mengalir saja.

dimuat di majalah SWARACINTA Tahun I/Mei-Juni 2011.

One Response to “Hidup Menapaki Anak Tangga”

  1. Sangat menginspirasi…

Leave a Reply

Latest Comments

  • massol507:
    Alhamdulillah tuntas bacanya. Jadi pengen ikutan bikin akun dan tweet unik biar jadi artis Twitter....
  • MdarulM:
    Sungguh keren ada akademi yang lebih fokus ke dunia digital marketing…apakah ini yang pertama di...
  • WT Riharj:
    Selamat atas lahirnya Akademi Virtual, semoga dapat meningkatkan kualitas sumber saya manusia di bidang...
  • M. Harisun:
    Saya berpendapat dari sisi yang berbeda, ketika karir menjadi tujuan biasanya kita lupa pada sisi lain...
  • pety puri:
    postingan ini cukup panjang tapi menarik. membuka sisi2 lain yg tak pernah saya tau sebelumnya,...

Latest on

sudutpandang.com

Latest on

portalhr.com

Latest on

virtualblog

Latest on

media coverage

copyright 2011 nukmanluthfie.com